Melirik Museum Trinil Ngawi yang Cukup Menarik

0

Lokasi dan Koleksi di Wisata Museum Trinil Ngawi

Wisata Museum Trinil
Instagram by @ayub_prtma

Museum Trinil Ngawi – Wilayah Indonesia dan negara-negara lain tentu pernah ditempati oleh hewan-hewan khas zaman dulu yang hidup di zaman purbakala. Seiring dengan waktu yang berputar, cuaca, dan kondisi yang berubah, satwa yang ada melakukan evolusi terhadap diri mereka sendiri. Dengan perubahan bentuk dan salah satunya mengalami kepunahan. Fauna yang punah ini ditemukan di berbagai tempat dan dikumpulkan kembali menjadi kerangka-kerangka yang bisa dilihat dan dikaji kehidupannya pada masa lalu. Di Indonesia, ada beberapa tempat yang digunakan sebagai tempat pameran fosil-fosil hewan purba. Salah satu yang bisa dikunjungi adalah Kabupaten Ngawi Jawa Timur. Di Kabupaten ini terdapat museum yang menyimpan benda-benda antik dan juga fosil purba. Inilah wisata Museum Trinil Sangiran.

Sebenarnya, lokasi ini bernama Museum Trinil saja, namun, karena lokasi yang berdekatan dengan Museum Sangiran yang berada di daerah Sragen, maka sering masyarakat awam yang tidak tahu menahu tentang wisata ini menyebutnya dengan istilah Trinil Sangiran. Meski pada kenyataannya, Museum Sangiran dan Museum Trinil memiliki keterkaitan erat dalam hal penemuan benda-benda kuno.

Sejarah Museum Trinil Ngawi
Instagram by @raraaaa.zk

Situs Museum Trinil ini sudah berdiri selama hampir seperempat abad. Keberadaan Museum ini begitu mendapat perhatian serius dari Pemerintah, mengingat peneliti-peneliti yang datang ke tempat ini tidak hanya peneliti lokal saja, tetapi juga peneliti dari berbagai belahan dunia, termasuk warga Belanda. Mereka beranggapan bahwa Indonesia merupakan salah satu tempat yang dihuni oleh manusia homo pada zaman dahulu. Hal itu terbukti dari banyak ditemukannya kerangka manusia yang ada di sekitar Ngawi Sragen ini. Seorang dokter berkebangsaan Belanda bernama Eugene Dubois, telah melakukan perjalanan penelitian mulai dari Pulau Sumatera, dan berakhir di Pulau Jawa ini. Eugene pertama kali mendarat di Payakumbuh, dan berhasil menemukan kerangka, namun kerangka-kerangka yang ditemukannya ini adalah kerangka muda, sehingga sulit untuk dijadikan bahan penelitian. Barulah di Pulau Jawa tepatnya di sekitar Kabupaten Ngawi ini, Eugen berhasil memamerkan penemuan yang mengguncang dunia dengan ditemukannya sosok manusia purba yang lebih sempurna dari primata, sudah dapat berdiri tegak, namun dengan bentuk wajah yang tidak sesempurna manusia modern. Berkat temuannya di Indonesia ini, Kabupaten Ngawi semakin mendunia. Ternyata kota kecil di Jawa Timur ini menyimpan harta karun yang begitu berharga.

Kunjungi :  Sensasi Mancing di Wisata Pantai Sadeng Gunung Kidul

Selain peneliti luar negeri, Indonesia juga mempunyai seseorang yang berjasa dalam pengumpulan fosil-fosil di kawasan ini. Dialah Wirodiharjo atau dikenal dengan sebutan Wirobalung. Mungkin saja, sebutan Wirobalung ini karena beliau ini hobi mengumpulkan tulang kerangka. Balung adalah kosa kata bahasa Jawa berarti tulang. Wirodiharjo ini menjadi pemasok utama koleksi Museum Trinil di Ngawi. Hampir seisi rumah Wirobalung ini terisi oleh fosil langka yang ditemukannya di sekitaran sungai Bengawan Solo. Oleh sebab banyaknya “barang berharga” tersebut di rumahnya, dibangunlah Museum Trinil ini sebagai tempat menampung fosil yang ditemukannya. Peristiwa ini pula yang menjadi sejarah Museum Trinil Ngawi.

Lokasi dan Koleksi di Wisata Museum Trinil Ngawi
Instagram by @museumtrinil

Penelitian yang dilakukan di kawasan “hutan fosil” ini terbagi menjadi tiga tahap. Tahapan-tahapan tersebut dilaksanakan selama beberapa puluh tahun. Tahap awal penelitian dilakukan pada tahun 1889 sampai tahun 1941. Hasil penelitian pertama ini dibawa dan disimpan di negeri Belanda. Penelitian kedua merupakan lanjutan dari tahap pertama yang dimulai dari tahun 1931 hingga 1941. Hasil penelitian dan temuan yang didapat kemudian disimpan di Fankfurt, Jerman. Baru pada penelitian tahun ketiga yang diadakan pada 1952 sampai 1976 disimpan di Indonesia, tepatnya di Museum Paleoantropology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Fosil yang ada di Museum Trinil ini adalah fosil manusia purba, dengan bentuk yang belum sempurna seperti sekarang, ada pula fosil satwa seperti fosil tanduk kerbau, fosil tanduk banteng, fosil gading gajah zaman purba, fosil gigi geraham bagian atas pada gajah purba, fosil tulang rahang bawah macan purba, dan masih ada beberapa lagi lainnya yang bisa Anda jumpai di tempat ini. Meski fosil tersebut ada yang sama dengan hewan yang hidup pada zaman sekarang, namun terdapat perbedaan mendasar dari fosil yang ditemukan, yaitu ukurannya yang jumbo, tidak seperti hewan masa kini pada umumnya. Misalnya saja, gading gajah. Gading gajah yang dipamerkan dalam Museum ini memiliki panjang hampir 4 meter. Tentu bisa dibayangkan, seberapa besar gajah yang memiliki gading sebesar itu. Jumlah fosil yang berada di Museum Trinil ini terhitung sejumlah 1.200 fosil, dengan 130 jenis.

Kunjungi :  Air Terjun Kedung Kayang, Wisata Alam dengan Landscape yang Sejuk

Anda seolah akan terbawa ke dalam kehidupan zaman purba dengan masuk ke Museum Trinil. Suasana masa lampau amat sangat terasa. Anda diperbolehkan mengambil gambar bersama dengan fosil-fosil tersebut. Tiket masuk Museum Trinil ini gratis pada hari biasa, namun pada hari libur atau tanggal merah, pengunjung dikenakan tarif sebesar Rp. 15.000 saja per satu rombongan. Cukup murah bukan? Dengan biaya semurah itu, Anda sudah bisa menikmati sudut-sudut purba di tempat ini.

Museum Trinil Ngawi
Instagram by @museumtrinil

Lokasi Museum Trinil ini terletak di Dusun Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Dari pusat Kota Ngawi, jarak Museum Trinil ini adalah sekitar 15 kilometer. Di dekat inilah lokasi penemuan Phitecantropus Erectus atau manusia Jawa purba. Konon, ditemukannya kerangka manusia purba di Indonesia ini menjadi satu hal penting bagi dunia sejarah, karena dengan adanya penemuan tersebut, pada akhirnya ditemukanlah mata rantai yang hilang antara hubungan atau keterlanjutan perubahan bentuk manusia pada zaman dahulu hingga masa sekarang. Rantai yang hilang tersebut adalah phitecanthropus Erectus atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai bentuk manusia kera yang dapat berjalan tegak. Sesuai dengan teori evolusi, bahwa menurut penelitian ilmiah, nenek moyang manusia adalah primata. Hal tersebut konon melihat perkembangan kerangka manusia yang ditemukan dalam penelitian-penelitian ilmiah dari waktu ke waktu yang jika dilihat secara berurutan, maka perubahan demi perubahan bentuk dasar manusia cocok dengan penelitian yang dilakukan oleh ilmuan-ilmuan dunia.

Museum Trinil dan Sangiran ini berperan besar dalam dunia penelitian benda langka. Tempat ini menjadi rujukan bagi pelajar, masyarakat umum, dan peneliti-peneliti muda dalam mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan tentang sejarah. Terlebih, bagi peneliti-peneliti kelas dunia, keberadaan artefak kuno ini menjadi dasar bagi pengembangan-pengembangan ilmu baru dan sebagai sarana serta bahan penelitian lanjutan.

Kunjungi :  24 Tempat Wisata di Pangandaran Paling Hits Saat Ini

Peninggalan di Museum Trinil ini kebanyakan ditemukan di daerah bantaran sungai Bengawan Solo. Begitu pula yang ditemukan oleh Wirodiharjo. Itu artinya, banyak peradaban kuno yang hidup di tepi sungai ini. Mereka bertempat tinggal, mencari penghidupan, dan beraktivitas di sungai yang terkenal berkat lagu lama ini. Letak Museum Trinil juga tidak jauh dari sungai Bengawan Solo.

Wisata Ngawi yang juga menyimpan cerita sejarah panjang dengan kisah masa lalu adalah Benteng Pendem Ngawi dan Kebun Teh Jamus. Sepertinya Ngawi ini memang cocok dijadikan tempat wisata sejarah untuk bisa lebih dalam mengenal kehidupan di masa lampau. Tempat ini pantas sebagai tempat wisata edukasi bagi pelajar. Jangan lupa ajak keluarga terutama anggota keluarga yang masih berada di bangku sekolah. Mereka adalah generasi penerus yang akan mengabadikan dan meneruskan ilmu bagi kehidupan di masa yang akan datang.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

/* */