Wisata Gunung Muria Kudus yang Penuh Misteri

0

Gunung Muria Kudus – Selain segala keunikan dari Gunung Muria, masih ada juga wisata di Kudus yang patut untuk dikunjungi di Kudus, tempat itu adalah Menara Kudus. Menara Kudus ini merupakan sebuah bangunan yang berbentuk menara dan dibangun dengan arsitektur Hindu Jawa. Hal tersebut didasarkan kepada bentuknya yang memiliki bagian kaki, badan, dan atap yang merupakan ciri khas bangunan Hindu. Menjadi ikon kota Kudus dan harus dikunjungi saat datang di Kudus. Dan tempat ini menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi peziarah yang ingin berziarah di Wali Songo.

Dan dibagian belakang Masjid Menara Kudus, terdapat sebuah makam yang diketahui bahwa makam itu merupakan makam Sunan Kudus yang merupakan salah satu dari 9 wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang dikenal dengan sebutan Walisongo. Disamping sekeliling makam Sunan Kudus terdapat makam-makam lain yang diketahui sebagai murid-murid dari Sunan Kudus.

Selain wisata religinya, Kudus memiliki wisata alam yang menjadi kebanggaan, sebut saja Air Terjun Pengantin yang berada di Dusun Bakaran, Desa Piji, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Air terjun ini memiliki dua aliran air terjun yang sejajar hanya di pisahkan oleh bebatuan dan tanah, dapat dibilang bagai pinang yang dibelah dua. Letaknya yang masih berada di tengah hutan, membuat suasana sepi dan nyaman. Bagi yang menyukai suasana sunyi sepi sangat cocok untuk datang kesini, dan keindahannya harus diabadikan, agar tidak menyesal kemudian hari.

Sejarah, Puncak dan Pendakian Gunung Muria Kudus

Sejarah, Puncak dan Pendakian Gunung Muria Kudus
Instagram by @pakidulan.adventure

Gunung Muria merupakan salah satu gunung yang cukup tinggi, wisata Gunung Muria terletak di tiga Kabupaten yaitu Kudus, Pati dan Jepara, ketinggiannya mencapai 1.602 mdpl dan terletak di sebelah Utara Jawa Tengah. Dengan beberapa puncak yang dimilikinya. Gunung yang satu ini juga terkenal akan keindahannya yang keberadaannya dikelilingi deretan pegunungan hijau dan beberapa sungai yang mengalir secara jernih dan segar pastinya. Bahkan salah satu mata airnya yaitu Mata Air Sungai Kali Gelis terkenal akan kesegarannya, tak khayal bagi para pendaki sering menjadikannya sebagai bekal air minum untuk sampai ke puncak.

Bukan seperti gunung pada umumnya, Gunung Muria ini juga menjadi lokasi wisata religi yang terkenal karena terdapat Makam Sunan Muria dan Syekh Sadzli. Tidak hanya sebatas itu, disini juga terdapat wisata alam yang pastinya menarik untuk dikujungi, wisata tersebut adalah Banyu Anjlok, Air Terjun Jurang Nganten, Air Terjun Santi, Air Terjun Grenjengan Sewu, Waduk Seloromo, Waduk Gunung Rowo, Air Terjun Nglumprit, Air Terjun Monthel, Air Terjun Songgo Langit dan masih banyak sumber mata air lainnya. Pastinya akan membuat suasana hati menjadi segar kembali. Dan dari sekian lokasi wisata yang ada memiliki misteri Gunung Muria Kudus diantaranya, air terjunnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit sampai apa yang kita inginkan bisa terwujud.

Kunjungi :  Aktivitas dan Akses Menuju Lokasi Pantai Teluk Hijau Banyuwangi

Gunung Muria kadang disebut juga sebagai Gunung Retawu, Karena salah satu jalur pendakiannya di Desa Rahtawu. Rahtawu sendiri memiliki arti darah yang bercecer, dimana pada masa lalu dilokasi ini terjadi pertempuran hebat yang menjadikan korban berjatuhan dengan darah yang bercecer dimana-mana, bahkan ada yang mengatakan disini juga pernah terjadi ledakan nuklir.

Dibalik semua itu, terdapat banyak keindahan dan kehidupan disini, terbukti dengan adanya beberapa binatang yang hidup di Gunung Muria. Mulai dari macan tutul, monyet ekor panjang, kijang, burung dan masih banyak lagi. Seperti halnya binatang, disini juga terdapat banyak jenis tanaman, seperti kaliandra, jati, pohon papaya, ingas, cengkeh, dadap, bendo, aren, manggis, pinus, randu, anggrek, tejo, wuni, lamtoroagung, eukaliptus, gintungan dan lain-lain.

Untuk beberapa saat, kita tidak perlu menghawatirkan tentang Gunung Muria. Karena Gunung Muria terakhir meletus sekitar 300 sampai 160 tahun sebelum Masehi. Para ilmuwan mengatakan bahwa Gunung Muria ini merupakan salah satu gunung tidur, dan tidak akan meletus dalam waktu dekat ini. Karena sebenarnya, Gunung Muria merupakan salah satu gunung api yang aktif tapi untuk saat ini sedang tidak ada kegiatan didalam gunung, sehingga dikatakan tertidur.

Sejarah Gunung Muria Jawa Tengah

Sejarah Gunung Muria Jawa Tengah
Instagram by @alisulthon

Gunung Muria terbentuk sekitar 1 juta sampai 10.000 tahun sebelum Masehi dan untuk ukuran gunung termasuk gunung yang masih muda. Dahulu Gunung Muria hanya sebuah pulau vulkanik yang letaknya terpisah dari pulau Jawa hingga tahun terus berganti dan 1000 tahun kemudian Gunung Muria ini mengalami sedimentasi dan pergeseran lempeng yang membuatnya menyatu dengan Pulau Jawa.

Hal tersebut diperkuat oleh beberapa ahli yang mengatakan bahwa pada masa Kerajaan Demak, pusat kerajaan berada di tepi pantai Selat Muria yang menjadi jalur pemisah Pulau Muria dan Pulau Jawa. Karena sedimentasi yang cukup cepat menjadikan selat ini tidak dapat digunakan lagi sebagai jalur pelayaran, hanya bisa digunakan saat musim hujan tiba. Dan saat kemarau air sangat dangkal. Hingga saat ini, menjadikan Selat Muria hilang dan terbentuklah Gunung Muria yang ada sekarang. Dan begitulah asal usul Gunung Muria Jepara.

Cerita Bangsa Lemuria di Gunung Muria

Cerita Bangsa Lemuria di Gunung Muria
Instagram by @yi_mion

Pada jamannya, sekitar 60.000 tahun sebelum Masehi di Gunung Muria ini terdapat sebuah bangsa dengan peradaban besar bernama Lemuria. Bahkan Presiden Komite Perdamaian Dunia menyatakan bangsa Lemuria merupakan induk dari peradaban dunia. Pada waktu itu tahun 40.000 muncul zaman es, setelah beberapa waktu akhirnya berakhir dan mulailah gletse dikutub mencair yang membuat lelehan air menggenangi daratan sehingga kawasan daratan yang ada menjadi terpecah-pecah. Begitu pula bangsa Lemuria, mereka terpecah dan menjadi suku bangsa dengan peradaban yang berbeda pula di berbagai belahan dunia. Banyak hal yang mendukung kebenaran teori ini. Bangsa Lemuria selalu meninggalkan jejak di tempat baru yang dia tinggali, seperti Jeniro Brazil, Mali Afrika, Bukit Moriah (Muria) di Yerusalem, Rajastan India dan masih banyak lagi.

Kunjungi :  Harga Tiket Masuk Wisata Jepara Ocean Park Terlengkap

Puncak Gunung Muria

Puncak Gunung Muria
Instagram by @andimuslim

Di Gunung Muria ini, terdapat beberapa puncak yaitu:

  • Puncak 29 Gunung Muria Pati, merupakan puncak tertinggi dan memiliki nama lain Puncak Saptorenggo. Sedangkan warga sekitar lebih sering menyebutnya Puncak Songolikur, dimana songolikur dalam bahasa Jawa artinya 29. Puncak ini berada di kawasan Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus. Bukan hanya menjadi tempat favorit pendakian, lokasi puncak inipun menjadi salah satu lokasi andalan bagi yang ingin mengadakan ritual atau mencari berkah. Saat bulan Muharram atau Suro, akan banyak pengunjung yang datang, kebanyakan untuk berdoa meminta sesuatu kepada sang pencipta.
  • Puncak Natas Angin, diantara jalur lainnya untuk mencapai puncak ini pendaki perlu sangat hati-hati karena jalurnya yang ekstrim yang dikenal dengan sebutan Gunung Muria Jalur Naga Diatas Awan. Disebut begitu karena kemiringan yang dimiliki mencapai 80 derajat, medannya yang menantang membuat pendaki yang ada lebih merasakan puas saat mengunjunginya. Satu lagi, puncak ini akan melewati puncak Abiyoso.
  • Puncak Abiyoso, merupakan puncak yang biasa digunakan untuk berkemah, karena merupakan puncak terendah yang dimiliki Gunung Muria. Bagi pendaki yang amatir cocok untuk datang kesini.
  • Puncak Argowiloso, menjadi salah satu puncak yang memiliki jalur menantang setelah Puncak Natas Angin. Disini menjadi salah satu andalan pendaki karena merupakan tempat untuk mengambil air yang segar sebagai bekal naik nantinya. Banyaknya sumber mata air menjadi salah satu alasannya. Bahkan untuk mencapai puncaknya, pendaki akan melewati Air Terjun Montel dan Air Tiga Rasa, pemandangan yang pastinya sangat indah dan sayang untuk dilewatkan.
  • Puncak Argo Jembangan, biasa juga disebut Puncak Punuk Sapi, disebut demikian karena puncaknya yang mirip dengan punuk sapi. Untuk mencapainya, cukup sulit, karena beberapa pendaki sempat kehilangan arah disini dan mataharipun sering tidak tampak akibat tertutup Puncak Punuk Sapi.

Gunung Muria Pendakian

Gunung Muria Pendakian
Instagram by @kak_le

Banyak jalur yang bisa ditempuh guna mencapai puncak, sebut saja Puncak Songolikur, untuk mencapainya ada 2 rute yang bisa dijadikan pilihan. Bisa melewati pos pendakian di Dukuh Semliro, Desa rahtawu, Gebog, Kudus atau bisa juga melewati pos di Desa Tempur, Keling, Jepara. Bagi para pendaki bisa mengambil angkutan dari Terminal Kudus menuju ke Desa Rahtawu. Setelah itu langsung saja menuju basecamp dan langsung bisa menuju puncak, medan cukup landai diawal. Nantinya pendaki akan melewati Pos Buton dilanjutkan ke Pos Eyang Pandu, lalu baru sampai puncak, di area ini trek cukup berat jadi harus tetap berhati-hati. Untuk melakukan pendakian Gunung Muria puncak 29 ini perlu waktu kurang lebih 3 jam pendakian.

Kunjungi :  Keliling di Ekowisata Taman Air Tlatar Boyolali Jateng

Sedangkan untuk menuju ke Puncak Natas Angin, jalur yang biasa digunakan adalah jalur dari Desa Rahtawu. Langsung saja, dari tugu selamat datang Desa Rahtawu lurus mengikuti petunjuk arah kurang lebih 15 menit menuju tempat parkir Abiyasa. Ditempat ini sekaligus sebagai pintu gerbang menuju puncak atau bisa dikatakan basecamp. Dari parkir hingga Puncak Abiyasa diperlukan waktu 2 jam dengan trekking yang cukup berat sehingga pasti akan menguras tenaga pendaki yang datang.

Treknya yang berupa tanjakan dengan jalan dari tanah bebatuan yang makin lama makin terjal dan zig zag akan menjadi pengalaman tersendiri bagi pendaki yang datang. Tapi tidak usah kahwatir, pemandangan yang indah dan hijau akan membuat lelah menjadi sedikit berkurang. Disini terdapat bangunan yang berupa makam yang disertai dengan mushola dan warung makan. Jadi jika tidak kuat untuk melanjutkan perjalanan, bisa beristirahat dan berhenti disini.

Untuk yang ingin melanjutkan sampai Puncak Natas Angin, diperlukan waktu sekitar 30 menit dari Puncak Abiyasa ini. Dimulai dengan jalan setapak akan sedikit mengurangi beban, tapi setelahnya, jalan yang dilewati juga terjal seperti sedia kala. Sebut saja Jalur Naga, disini jalan menanjak dengan kemiringan hampir 80 derajat dengan lebar jalan yang hanya 1,5 meter dan sebelahnya langsung berbatasan dengan jurang. Lebih baik untuk mendaki saat musim kemarau, karena saat hujan tiba, jalan akan licin dan pastinya menghambat perjalanan.

Bagi yang ingin ke Puncak Argowiloso bisa melalui sumber air di daerah Rejenu sampai Latar Ombo, disini digunakan sebagai tempat istirahat. Dari sini bisa langsung mengikuti petunjuk arah yang ada dan nantinya akna melewati petilasan dan terus sampai melewati trek yang lumayan berat karena ada beberapa titik lokasi yang kemiringannya mencapai 90 derajat, sudah seperti climbing bukan? Jadi bagi para pendaki atau traveler yang ingin datang dan mencoba naik sampai puncak harap berhati-hati dan membawa perlengkapan safety. Sekian.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

/* */